I made this widget at MyFlashFetish.com.

Rabu, 22 Desember 2010

Tanah Sang Raksasa

Raksasa Bargawa menerima sahabatnya di dalam guanya. Sahabat Raksasa Bargawa adalah seorang manusia, laki-laki muda bernama Arya.

Pemuda Arya dan Raksasa Bargawa sudah lama bersahabat. Mereka saling menyukai satu dengan yang lain.

“Aku sengaja mengundangmu hari ini, Arya,” kata Raksasa Bargawa.

Matanya yang lebar berkejap-kejap, giginya yang tajam dan runcing tampak mengilap ketika ia tertawa.

“Untuk berbicara tentang tanah milikmu ini, bukan?” Tanya Arya.

“Benar!” Raksasa Bargawa mengangguk. Rambutnya yang keriting panjang beriap-riap pada waktu ia menggerakkan kepalanya. “Raja hendak merebut tanah milikku. Itu berarti aku akan diusirnya. Bayangkan, Arya! Beratus-ratus tahun nenek moyangku menghuni tanah ini. Turun-temurun sampai kepadaku. Selama ini kami hidup dengan tenang. Kami berhubungan baik dengan manusia dan kami tidak pernah mengganggu mereka.”

Arya mengangguk. “Kau memang Raksasa yang baik.”

“Sekarang keturunan raksasa tinggal aku sendiri. Aku sudah tua pula. Tak lama lagi aku tentu mati. Mengapa raja tidak mau menunggu saat kematianku, baru ia menyatakan tanah ini miliknya,” kata Raksasa Bargawa menunduk sedih, “Raja ingin memiliki tanahku sekarang. Lantas dimana aku harus tinggal?”

“Mungkin kau akan diberinya tanah tempat tinggal yang baru,” sela Arya.

“Ya, didasar laut! Tidak, Arya! Raja tidak sebaik itu! Hatinya terlalu tamak untuk memikirkan nasib seseorang, apalagi raksasa seperti aku!” raksasa Bargawa meneruskan dengan suara rendah, “Kaulah yang dapat membantu aku, Arya.”

“Apa yang dapat aku lakukan? Raja terlalu berkuasa.”

“Aku akan mencoba menolongmu. Moga-moga raja mendengarkan saranku,” katanya. Arya kemudian meninggalkan gua raksasa Bargawa.

Seminggu kemudian Arya kembali menemui raksasa Bargawa. Dengan sedih ia menyampaikan kabar bahwa Raja tidak menghiraukan nasihatnya. Raja tetap berkeras merebut tanah milik raksasa Bargawa.

“Dan bila perlu membunuhku?” tukas raksasa Bargawa.

Arya mengangguk.

Raksasa Bargawa memejamkan matanya. “Selama hidup aku belum pernah berperang dengan manusia. Namun, sebentar lagi terpaksa aku lakukan!”

Malam itu Arya bermalam di gua Raksasa Bargawa. Mereka membicarakan dalam suasana diliputi kesedihan, memikirkan pertempuran yang akan terjadi besok antara Raksasa Bargawa dan Raja beserta bala tentaranya. Mereka berusaha mencari jalan keluar untuk menghindari pertempuran, tetapi tidak menemukannya. Arya sendiri tidak kuasa mencegah tekad Raksasa Bargawa untuk mempertahankan haknya. Lagi pula, ia menyadari kebenaran pendirian Raksasa Bargawa yang berniat mempertahankan tanah tumpah darahnya.

Pagi harinya, Raksasa Bargawa sudah bersiap-siap mengenakan pakaian kulit yang tebal. Di tangannya tergenggam sebuah penggada. Meskipun sudah tua, raksasa itu tampak gagah perkasa.

Menjelang siang, datanglah Raja beserta bala tentaranya. Melihat Raksasa Bargawa tampak sudah siap berperang. Raja memerintahkan penyerbuan.

Raksasa Bargawa siap menunggu, pertempuran tidak terhindar lagi. Tentara Raja berusaha membunuh Raksasa Bargawa dengan anak panah atau tombak, tetapi percuma! Raksasa Bargawa terlalu sakti. Penggadanya berayun berputar melingkar dan merobohkan korbannya. Korban demi korban berjatuhan.

Raja maju sendiri. Dia menombak lambung Raksasa Bargawa. Tidak mempan! Raksasa Bargawa menyambar tubuh Raja dari atas kudanya lalu melemparnya. Raja terbanting di atas tanah berbatu dan mati.

“Cukup, cukup! Cukup, Bargawa!” teriak Arya mencegah amukan Raksasa Bargawa. “Raja sudah mati. Jangan menjatuhkan korban lain, mereka tidak bersalah.”

Namun, Raksasa Bargawa terlanjur marah. Ia tidak menghiraukan peringatan Arya. Ia terus mengamuk. Tentara yang mati bertambah banyak.

Arya tidak menemukan pilihan lain. Ia harus melindungi orang yang tidak bersalah dari amukan Raksasa Bargawa. Dipungutnya sebatang tombak dan dilemparnya ke arah dada kiri Raksasa Bargawa. Crapp! Raksasa Bargawa tersentak lalu rebah terkapar, mati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar