I made this widget at MyFlashFetish.com.

Selasa, 21 Desember 2010

pentingnya keluarga

Keluarga sudah ada sejak dulu setelah Nabi Adam dan Hawa. Keluarga juga merupakan komponen terkecil dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Sementara teman adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sering kali para remaja menganggap teman lebih penting daripada orang tua. Padahal tanpa kita sadari, orang tua sangat besar pengaruhnya bagi kita. “Untuk apa di rumah kalau kita hanya duduk termangu, nonton TV, makan, mandi, dan hanya disuruh-suruh? Lebih baik pergi ke rumah teman dan berbagi cerita,” pendapat salah seorang remaja. Memang benar, kalau bersama teman, kita bisa tertawa, menangis, sedih, senang, terkejut, pokoknya bisa bebas melakukan apapun. Selain itu, kita bisa mendapat ide-ide gila yang menurut kita cemerlang kalau bersama teman. Apalagi kalau teman itu sudah dikategorikan sebagai ‘sahabat’. Kita mungkin saja tidak mau berpisah dengan mereka. Kita ingin selalu bersama mereka setiap waktu. Mungkin juga kalau kita sangat bosan di rumah, kita akan menginap di rumah teman tanpa memerdulikan pendapat orang tua. Bahkan, walau orang tua sudah melarang, kita masih tidak memerdulikannya. Sedangkan apa yang bisa kita lakukan dirumah? Dalam benak remaja, rumah adalah tempat yang sangat membosankan. Padahal ada pepatah ‘rumahku, surgaku’. Seharusnya rumahlah yang menjadi tempat teristimewa bagi kita. Tidak tahu mengapa, pendapat tersebut menjadi terbanding terbalik dengan hal yang sesungguhnya. Kalau sudah melihat orang tua, rasanya ingin sekali menghindari mereka. Tapi kalau ada butuhnya, kita dengan gampangnya melupakan apa yang sudah kita lakukan pada mereka. Misalnya, kita perlu uang untuk membayar SPP atau membeli buku, dengan gampang pula para orang tua memberikan kemauan kita. Sungguh mereka akan mendapatkan surga Allah.

Tetapi, tidak semua teman itu baik, ada yang buruk. Misalnya kalau teman itu mengonsumsi narkoba. Kita bisa saja terjerumus dalam dunia narkoba karena pengaruh teman. Kalau kita sudah terjerumus ke dalam obat-obat terlarang itu, kita akan sangat menyesal. Dan obat penyeslalan itu adalah kasih sayang orang tua karena orang tua tidak akan berhenti menyayangi anaknya. Maka dari itu, kalau memilih teman jangan hanya melihat dari luarnya saja dan rasakan kehadiran orang tua. Tapi sesungguhnya kalau kita ada kemauan untuk berhubungan dekat dengan orang tua, kita pasti bisa. Bersikap hangatlah dengan mereka. Selalu manjakan mereka agar bisa senang, misalnya kalau sedang pergi ke suatu tempat dan menemukan sesuatu yang cocok dengan mereka, berusahalah untuk bisa mendapatkannya. Selain itu, ajaklah mereka untuk bergurau dan membagi cerita-cerita, misalnya pengalaman di sekolah. Yang paling penting, tanamlah di hati kita bahwa orang tua adalah orang terbaik melebihi apapun, kecuali Allah. Dan tidak lupa, berdoalah untuk mereka agar mereka diberikan rezeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, termasuk kebutuhan kita dan mereka selalu diberi petunjuk-petunjuk Allah dalam menghadapi segala masalah.

sejarah : Ali bin Abi Thalib

Ketika terjadi perang Uhud mayat-mayat bergelimpangan di segenap penjuru. Tak satu pun yang utuh. Di pihak syuhada Muslimin, korban-korban perang mirip bangkai-bangkai yang dimakan binatang buas. Sungguh mengerikan.

Pihak musuh dipimpin oleh dua panglima Quraisy yang gagah perkasa, Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abi Jahal, yang mengamuk bagaikan macan-macan gurun yang haus darah. Rasulullah telah terluka. Hamzah, pamannya, telah dibantai oleh Wasya, tangan kanan Hindun istri Abu Sufyan. Wasya bukan hanya membunuh pahlawan utama kaum Muslimin itu, bahkan mengorek jantungnya, dan diserahkan kepada majikannya. Oleh Hindun, jantung Hamzah dikunyah mentah-mentah sebagai pelampiasan dendam lamanya.

Ali bin Abi Thalib terlibat pertarungan dengan seorang panglima musyrik yang tangguh. Ia seorang yang cekatan dan lihai dalam menggunakan pedang, baik di atas kudanya maupun di medan pasir yang terik.

Darah Ali bin Abi Thalib telah membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya telah tercabik-cabik, perisainya terlempar jauh. Kelebatan pedang lawan menyambar-nyambar bagaikan kilat, maut mengancam jiwanya. Ali benar-benar dalam bahaya yang sangat gawat.

Dalam suatu kesempatan, Ali berhasil menangkis pedang lawan yang mengarah ke lehernya, dan dengan cepat ia berhasil mengguting kaki panglima musyrik itu.

Orang kafir itu menjadi terkejut, ia tak menduga akan mendapat serangan semacam itu, maka ia terguling jatuh dan pedangnya terlepas yang segera di tendang jauh oleh Ali. Kemudian pahlawa kaum Muslimin muda itu dengan gesit melompat kea rah tubuh lawannya. Dicabutnya pisau pendek dari pinggangnya, dan tangannya yang sudah terangkat tinggi siap untuk menghujam pisaunya ke jantung musuh yang telah tak berdaya.

Namun tiba-tiba, tatkala dalam beberapa detik lagi pisau Ali yang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari akan menghabisi nyawanya, orang musyrik itu meludahi muka Ali tepat mengenai mata, hidung, dan mulutnya.

Ali mengurungkan niatnya. Tangan yang memegang pisau diturunkan kembali. Ia sangat jijik dan marah, wajahnya merah padam, dadanya nyaris meledak karena murka. Ludah orang itu bukan main busuknya, hampir saja Ali muntah-muntah.

Yang sangat mengherankan, dalam keadaan darahnya bergolak panas karena dihina dan direndahkan, Ali bin Abi Thalib justru melemparkan pisaunya ke samping, lalu ia segera berdiri dan menyuruh lawannya itu pergi.

Orang musyrik itu menjadi heran dan terbengong-bengong.

“Mengapa engkau melepaskan diriku? Kenapa engkau tidak jadi membunuhku? Gilakah dirimu, padahal seandainya tadi posisiku sepertimu, pasti kau sudah mampus!” kata orang musyrik itu dengan nada tidak percaya.

“Untuk membunuhmu bisa diselesaikan lain kali,” jawab Ali seraya mengusap debu yang menempel di bajunya. “Tetapi, kalau aku membunuhmu sekarang, itu bukan karena Allah semata-mata, melainkan karena aku marah karena kau ludahi. Berbeda dengan sebelumnya saat aku benar-benar bertempur dengan dasar keyakinan untuk membela agama yang benar. Aku tidak mau mengotori tangan dan perjuanganku dengan darah manusia karena alasan hawa nafsu, betapapun besarnya kemarahanku karena kau hina dengan perbuatanmu meludahi wajahku tadi.”


TAMAT

Angkaro dan Tunturana

Dua ekor kepiting, Angkaro dan Tunurana, bersahabat karib. Mereka tingggal bersama di pinggir laut, di balik bebatuan. Apabila air laut surut, mereka bersembunyi karena takut kepada orang-orang yang sedang mencari ikandan mencari kepiting. Apabila air laut pasang, Angkaro dan Tunturana girang bermain tanpa takut akan ditangkap manusia.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama, Angkaro dan Tunturana keluar menikmati keindahan alam. Ketika itu air laut pasang. Manusia pun beramai-ramai menikmati sinar bulan purnama seperti halnya makhluk-makhluk yang lain.

“Sahabat, badan kita polos, tak indah dipandang,” kata Angkaro kepada Tunturana, “Bagaimana kalau kita hiasi punggung kita agar kelihatan menarik?”

“Baik sekali pendapat itu. Kita perlu mempercantik diri agar kelihatan menarik. Lalu, bagaimana caranya?”

“Begini saja,” sahut Angkaro, “Kita lukisi punggung kita dengan cat warna-warni yang serasi warnanya dengan kulit kita.”

“Baik,” kata Angkaro, “Siapa dulu?”

“Aku dulu, kata Tunturana, “Ukirlah punggungku dengan hiasan yang indah-indah.”

Angkaro mulai mengukir punggung Tunturana. Punggung Tunturana dihiasi dengan bulatan dari muka ke belakang dan dari atas ke bawah. Lukisan itu sangat memesona.

“Sudah selesai, sahabat,” kata Angkaro, “Bercerminlah di permukaan air di bawah sinar bulan purnama!”

Tunturana pun bercermin.

“Bagus, bukan?” Tanya Angkaro.

“Ya, bagus sekali! Terima kasih, sahabat!” kata Tunturana.

“Sekarang giliran kamu mengukir punggungku,” kata Angkaro.

“Baiklah! Sekarang tanam punggungmu, aku akan mempercantik tubuhmu,” lalu Tunturana pun mengambil kuas dan cat hendak mengukir punggung Angkaro. Namun, apa yang terjadi?

Tiba-tiba air laut pun surut. Datanglah pencari ikan membawa obor. Kedua ekor kepiting itu pun terkejut. Berlarilah mereka terbirit-birit untuk menghindari bahaya.

“Maaf, sahabat,” kata Tunturanam, “Orang-orang sudah datang hendak menangkap kita. Tak ada waktu untuk melukisi punggungmu.”

“Tidak! Punggungku harus kamu ukir, jangan biarkan polos!” teriak Angkaro.

Melihat obor-obor semakin dekat, Tunturana mencakar-cakar punggung Angkaro dengan kuas dan cat. Punggung Angkaro sekarang penuh dengan cakaran tidak keruan karena tergesa-gesa hendak menyelamatkan diri.

Angkaro terpaksa menerima keadaan. Keduanya berkawan dalam bentuk yang amat berbeda: Tunturana cantik dan Angkaro jelek.

Dongeng : Air Susu Dibalas Air Tuba

Seorang petani sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu kering. Tiba-tiba. ia mendengar jeritan. Ia menoleh ke sana ke sini, tapi tak melihat siapa pun. Lalu, ia meneruskan mengumpulkan kayu.

Sekali lagi terdengar jeritan. Kali ini, ia mencari dengan lebih teliti. Akhirnya, dilihatnya seekor ular terjepit diantara batu-batu. Petani itu meloncat mundur karena takut. Ular adalah hewan yang licik. Namun, hewan itu mencoba mengiba-iba.

“Tolonglah aku, Tuan. Keluarkan aku dari bawah batu ini!”

“Aku bisa saja menolongmu,” jawab si petani. “Tapi, untuk apa? Kamu pasti akan menggigitku dan menyemburkan racunmu. Bagaimana pun ular tetap ular.”

“Astaga, aku takkan pernah berbuat sekeji itu,” kata ular.

Akhirnya, dengan mengabaikan akal sehatnya, petani itu mengangkat batu yang menindih ular. Dibiarkannya ular merayap keluar. Tiba-tiba, ular itu menggigitnya. Nyaris! Untung saja petani itu masih sempat menghindarinya.

“Nah, benar, kan!” teriak petani. “Kamu ular licik. Aku tahu itu. Mengapa kau membalas budi baik dengan perbuatan keji? Aku tak mengerti.”

Ada alasannya,” jawab ular. “Memang begitulah hokum rimba. Air susu dibalas dengan air tuba.”

Petani itu tak sependapat dengan si ular. “Tak semua orang setuju dengan pendapatmu itu,” katanya. “Jika ada orang yang berbuat baik terhadapku, aku akan selalu mengingatnya dan berusaha membalas kebaikannya.” Ular itu hanya mendengus.

“Kita bertaruh saja,” kata petani. “Carilah siapa yang setuju dengan pendapatmu maka kau akan kulepaskan.”

Petani dan ular itu pun berjalan bersama. Mereka bertemu dengan seekor kuda tua yang melangkah terseok-seok. Ekornya yang berambut jarang dengan lemah berusaha mengusir lalat yang mengerumuni kakinya.

“Hai kuda, menurutmu, budi baik harus dibalas dengan apa?” Tanya petani.

“Dengan kejahatan, jawab kuda.

“Mengapa kau berpendapat begitu?” Tanya petani kecewa.

“Waktu aku masih muda dan kuat, majikanku selalu merawatku dengan kasih saying. Aku diberi kandang dan jerami. Aku juga boleh makan sekenyangku. Tapi, aku sekarang sudah tua dan lemah, aku malah diusirnya begitu saja,” jawab kuda sedih.

“Nah, apa kataku,” dengus ular puas. “Sekarang juga akan kugigit kau dengan gigiku yang berbisa.”

“Tunggu dulu,” dengan tergesa-gesa petani itu berseru. “Sebaiknya, kita tanyakan pada yang lain lagi.”

Keduanya meneruskan perjalanan. Di padang rumput mereka melihat seekor domba sedang merumput. Petani bertanya padanya, “Hai domba, menurutmu, budi baik harus dibalas dengan apa?”

“Dengan kejahatan,” kata domba tanpa menoleh.

“Mengapa kau berpendapat begitu?” Tanya petani.

“Aku selalu memberikan wol untuk majikaku, tapi dia jahat. Di musim panas, dibiarkan buluku tumbuh lebat hingga aku pingsan kepanasan. Di musim dingin, dicukunya buluku hingga aku beku kedinginan,” jawab domba.

“Bagus! Sekarang, kugigit kau dengan taringku yang berbisa,” kata ular dengan mendesis.

“Sabar…sabar,” cegah si petani. “Pasti ada pendapat yang lain lagi.”

Mereka pun berjalan lagi. Untung, sebelum si ular melihat rubah, petani sudah melihat lebih dahulu. Petani menyelinap dan berbicara dengan rubah itu.

“Sebentar lgi aku akan menemuimu dengan seekor ular,” katanya menerangkan. “Kalau kau kutanya, jawablah bahwa budi baik harus dibalas dengan budi baik juga. Nanti, kuberi kau anak domba dan itik yang gemuk.”

“Boleh juga tawaranmu,” jawab rubah. Setelah itu, petani kembali berjalan bersama ular. Tak lama kemudian, mereka berpapasan dengan rubah. “Menurut pendapatmu, rubah,” kata petani. “Budi baik harus dibalas dengan apa?”

“Dengan budi baik,” jawab rubah tersenyum sambil membayangkan daging anak domba dan itik yang gemuk. Lalu, ketiganya mengobrol. Rubah mendengarkan cerita bagaimana ular terjepit di bawah batu. Dia tak percaya. Jadi, mereka kembali ke tempat batu itu. Atas anjuran rubah, petani itu menindih kembali si ular dengan batu. Rubah benar-benar telah menyelamatkan petani.

Namun malamnya, ketika rubah menagih janji, petani itu mengunci erat-erat kandang domba dan itiknya. Petani itu justru mengusirnya dengan acungan senapan dan dua ekor anjing galak.

“Wah, kau jadi pintar, ya!” seru rubah. “Memang benar kata ular itu!”

Hamster

Hamster: "This lively pet hamster will keep you company throughout the day. Watch him run on his wheel, drink water, and eat the food you feed him by clicking your mouse. Click the center of the wheel to make him get back on it."

Kamis, 23 September 2010

Gara-Gara SANDAL JEPIT

Tok.. tok.. tok. Bunyi ketukan pintu terdengar setelah Melani sedang asyiknya nupi film favoritnya “Arti Sahabat” di ruang keluarga.
“1..2..3.. Assalamualaikum” terdengar salam yang terdengar setelah ketukan tadi dan mungkin itu juga orang yang mengetuk pintu.
“Duh, siapa sih?” gerutu Melani yang merasa keganggu orang di luar sana.
“Mel, ayo cepetan bukain!” salah seorang di luar mulai nggak sabar.
“Kayaknya ... ” Melani mulai mengenal suara tadi. Pintu terbuka.
“Lama banget sih, Mel.” sungut Nana mulai kelihatan.
“Eh, kalian. Lho kok udah bawa roko sih? Kalian mau tarawih apa ngebersihin masjid? Berangkat jam segini. Berangkat itu jam setengah tujuh.” Melani memulai ceramahnya.
“Udah bawel banget sih bu haji. Ayo cepetan berangkat! Atau kalo nggak kita tinggal nih.” Potong Fera sebelum ceramahnya kepanjangan.
“Aku lagi nonton arti sahabat nih ...”
“Arti sahabat? Mana mana. Dari kemaren aku nggak boleh nupi sama bapakku. Jadi ketinggalan cerita deh.” Nana langsung nyeludur ke ruang keluarga Melani tanpa ngelihat reaksi Melani.
“Yee.. giliran arti sahabat aja semangat, coba kalo suruh ngepel. Dasar gendut!” Disa ikut nyambung aja.
“Eh.. apa kamu bilang? Gendut? Rupanya udah berani ngelawan ya si krempeng. Meding gendut daripada krempeng. Gak berbentuk tauk!” Nana yang dibilang gendut langsung sewot diikuti jitakan mulus ke kepala Disa.
“Alah, udahlah. Males ngeladeni orang gendut bin gembrot. Masuk yuk ra!” ajak Disa pada Fera yang dari tadi males ngomong liat Disa dan Nana yang udah dari dulu nggak bisa berhenti berantem.
“Yaudah ayo. Mulut kalian itu gatel ya? Dari dulu adu mulut mulu.”kata Fera sambil beranjak masuk.
“Nggak usah ikut campur urusan kita!” Nana dan Disa serempak.
“Udah diam!” teriak Melani yang lagi seriusnya nonton arti sahabat diganggu Fera, Disa, dan Nana.
“Wuih.. teriak sih teriak. Tapi ya nggak dikupingku kali Mel.” Fera protes.
“Kalian sih rame aja.” Pembelaan Melani yang dari tadi udah sangat amat keganggu mereka bertiga. Manjur. Mereka langsung terdiam dan semua serius nonton arti sahabat. Emang sehati, suka nonton arti sahabat.
“Ih Rangga versus Yudha. Kamu milih siapa Mel?” Tanya Nana.
“Penting ya?” jawab Melani pendek.
“Males ah ngomong sama kamu Mel” kata Nana sambil ngehindari Melani.
“Kamu sih Na nanya ke Melani. Pasti jawabnya gak genah.” Bujuk Fera.
“Pake acara ngamuk lagi. Jangan marah dong, Ndut!”
“Ohh.. gitu ya. Udah niru Disa rupanya. Mulai berani sama Nana pemenang taekwondo.” Ujar Nana sombong.
“Alah paling juga pemenang taekwondo tingkat kampung. Iya nggak Ra?” ejek Disa. Fera yang dimintai pendapat malah angkat bahu pertanda kalau dia nggak mau ikut campur masalah Disa dan Nana.
“Ihh ... udah dong. Rangga versus Yudha nih. Kalian jago siapa?” tegas Melani menghentikan mereka.
“Kalo aku sih ya pasti Yudha lah. Secara gitu ya..” Disa sok yakin. Padahal masih gedean badan Rangga dibanding Yudha.
“Iya kan sama kayak kamu. Sama sama krempeng gitu.”
“kamu itu Na!” kepala Disa lama-lama bisa panas kalo deket-deket Nana terus.
“Sst.. diem diem. Ajeng kayaknya kok lebih milih Rangga sih. Pake senyum-senyum lagi. Kan rangga jadi ge.er” Fera nerangin. Setelah serius-seriusnya nonton pengen tau lanjutannya siapa yang menang antara Yudha sama Rangga, lagu soundtrack arti sahabat dikumandangin.
“Yah kok bersambung sih!” Melani kecewa.
“Yaudah sekarang waktunya kita tarawih. Aktifkan penerbangan 3..2..1..” Disa semangat ’45 kalo udah mau tarawih karena emang ada pujaan hatinya Disana. Mereka berempat segera ke masjid dekat rumah buat ngelaksanain kewajiban mereka sebagai umat Islam, TARAWIH. Setelah tiba di rumah Allah, mereka meletakkan roko mereka di shaf yang strategis dan beranjak ke tempat wudhu.
“Eits eits basah semua nih. Gimana sih Mel?” Fera manyun gara-gara Melani yang emang jailnya setengah mati. Dia habis nyipratin air ke baju Fera, Disa, dan Nana.
“Sori sori. Bercanda ini.” Melani mengakui kalo dia habis nyipratin air ke Fera.
“Aku juga nggak beneran kok marahnya. Eh, tumben kalian akur. Biasanya aja kalau nggak diceramahin Melani nggak akan berhenti.” Kata Fera yang melihat kedua sohibnya lagi wudhu nggak pake ngomong ataupun ciprat-cipratan kayak Melani.
“Udahlah, Ra. Biarin mereka kayak gitu. Ini kan bulan puasa, jadi kita harus..”
“Mulai lagi kan bu haji kita yang satu ini” potong Fera yang denger ceramah Melani yang mungkin nggak selesai-selesai kalo nggak dihentikan.
“Uda ah aku mau wudhu. Cepetan Ra kalo wudhu. Emang kamu mau apa ditinggal?” pesan Melani pada Fera walaupun ia sudah ninggalin Melani.
Fera buru-buru wudhu karena udah ditinggal Melani dan segera ke dalam masjid. Tapi setelah sampai, ternyata semua udah sholat Isya’.
“Uhh.. awas ya kalian udah berani ninggalin aku” gerutu Fera dalam hati karna takut kedenger orang lain yang juga udah sholat.”
Tarawih dilaksanakan. 20 rakaat.
“Pulang pulang aku mau langsung tidur pokoknya. Capek... !” ucap Melani di tengah-tengah rakaat.
“Kalo aku sih pasti nggak boleh tidur. Paling juga belajar dulu.” Disa ngomentarin Melani.
“Hidupmu menderita ya Dis. Kasian ....” ejek Nana.
“Mulai kan. Lebay deh! Udah gendut lebay lagi.” Bales Disa nggak mau kalah.
“Emang. Sirik ya? Sirik tanda tak mampu loh. Hahaha..” dasar Nana nyebelin.
“Heh kalian. Udah ninggal, nggak minta maaf lagi. Ayo sungkem.” Suruh Fera masih nggak terima udah ditinggalin.
“Mohon maaf ibunda Fera!” teriak Nana, Disa, dan Melani dengan nada dipaksakan yang sumpah males banget buat minta maaf.
Mereka kembali sholat sampai selasai. Semua orang bersalaman setelah sholat tarawih, termasuk mereka berempat.
“Tidur tidur! Ku merindukanmu” oceh Melani yang nggak sabar pengen tidur dikolaborasi dengan lagu merindukanmunya d’masiv.
“Kamu nggak belajar dulu ya Mel?
“Nggak lah ngapain belajar, kurang kerjaan banget sih. Oh iya aku kan ada PR Bahasa Arab. Tamat riwayatku. Kalo gitu aku bareng kamu aja deh Ra belajarnya.” Kata Melani teringat kalau dia belum ngerjain PR sama sekali.
“Iya. Sama Disa juga kan? Dia tadi ngajak aku soalnya.”
“Terserah deh.” Jawab Melani pendek.
Mereka berempat pulang ke rumah masing-masing. Melani, Fera, dan Disa nyiapin buku mereka buat belajar bareng di rumah Melani. Sedang Nana udah tidur ngorok di kamarnya. Kebiasaan buruk. Makanya dia sampe segendut itu. Mungkin gara-gara makan terus langsung tidur.
“Assalamualaikum ... Ra, ini aku Melani. Kamu dimana?” kata Melani ragu memanggil Fera karena memang sepi sekali.
“Aku Disini, Mel” Melani langsung nyeludur masuk ke rumah Fera.
“Kamu dimana sih, Ra?” tanya Melani menyadari di dalam rumah masih sepi.
“Aku di kamar mandi Mel. Kamu tunggu aja di ruang tamu.” Teriak Fera dari kamar mandi. Tiba-tiba Disa datang dan segera masuk Melihat Melani juga ada disana.
“Fera mana?” tanya Disa yang baru duduk di kursi empuk Fera.
“Dia di kamar mandi. Nggak tau lagi ngapain. Hoahm..” jelas Melani yang nungguin Fera dari tadi sambil nahan ngantuk sampai matanya sedikit merah.
“Mel, anterin aku nyari sandal yuk di rumahku. Sandalku salah sebelah. Malah ketuker sama sandal kakakku.” Pinta Disa yang nggak enak ngerasa sandalnya salah sebelah.
“Males ah Dis. Besok aja gimana?” tolak Melani dengan lembut karena udah malem, jelas susah lah kalo nyari.
“Tapi aku butuhnya sekarang Mel” pinta Disa sekali lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
“Nanti aja deh. Fera habis ini selesai. Dianterin Fera aja soalnya aku udah ngantuk lagian PRku banyak banget. Sumpah.” Kata Melani meyakinkan Disa dengan kedua jari tangannya diangkat ke atas.
“Kamu kok gitu sih Mel sama aku. Tiap kali kamu minta anterin kan pasti aku mau. Tapi sekarang apa balasan kamu setelah apa yang telah aku lakuin ke kamu? Aku minta kamu nganterin aku ke rumah aja, kamu nggak mau? Jahat banget sih!” Disa marah-marah nggak nyangka Melani ternyata kayak gini kalo dimintai tolong, walaupun cuma nganterin ke rumahnya.
“Rumah kamu kan deket Dis. Cuma tinggal nyebrang aja udah sampek. Kenapa serepot itu sih.”
“Kamu itu Mel. Emang nggak punya rasa trima kasih. Besok kamu nggak usah jemput aku. Aku nggak sholat subuh. Males bareng orang kayak kamu.” Sungut Disa sambil jalan ke rumahnya saking marahnya sama Melani.
“Ya udah. Berarti kamu berdosa dan itu bukan urusan aku sama sekali. Itu udah jadi kewajiban kita dan ingat kalo kita nggak ngelakuin bakalan dosa. Kita nanti di akhirat sendiri, Dis. Nggak bakal ada yang akan nolong kita. Kecuali kalo Allah sayang sama kita, kita akan ditolong. Biar Allah sayang sama kita, kita harus rajin ngelaksanain perintahnya, salah satunya juga sholat.” Jelas Melani panjang lebar sampai sedetail-detailnya.
“Terserah kamu mau bilang apa, pokonya aku benci kamu. Sahabat macam apa kamu itu. Bisanya dateng kalo pas lagi butuh. Kalo nggak butuh langsung dibuang dan nggak diperhatiin. Iya kan?” teriak Disa sebelum nyebrang jalan. Melani jadi ngerasa bersalah sama Disa. Kenapa juga dia nggak mau nganterin Disa. Padahal kan, Disa selalu nganterin dia kemana aja. Melani sekarang sendirian di ruang tamu Fera. Sepi banget. Dia jadi takut sendiri. Lalu Fera datang.
“Yuk kita ke rumahmu Mel! Lho, Disa mana?”
“Dia marah.” Jawab Melani dengan tampang melas kayak kucing nggak bisa nyari ikan buat makanan hari ini.
“Marah?”
“Kamu nggak denger apa pura-pura nggak denger sih?”
“Kamu serius?”
“Iyalah. Ngapain juga aku bohong. Nggak penting banget. Kamu nggak papa kan kita belajar berdua aja?” tanya Melani.
“Ya nggak papa sih. Ya udah kita pergi sekarang aja. PRku udah numpuk semua nih.” Ajak Fera ngambil keputusan. Melani dan Fera pergi ke rumah Melani.
“Ra, aku kok takut ya?”
“Takut kenapa? Ini kan rumah kamu sendiri. Lagian ngapain sih percaya ama hantu?” jawab Fera asal dan sangat sok tau.
“Ih.. kamu itu sotoy deh! Orang aku nggak takut hantu. Aku takut kalo Disa marah beneran ke aku. Marahnya itu nggak kayak biasanya.” Tegas Melani. “Sebenernya gini ....” Lalu Melani menceritakan semua yang udah terjadi.
“Hhh, paling-paling nanti juga lupa sendiri. Kamu ngerti kan Disa kayak gimana?” tegas Fera kayaknya udah pengalaman banget kalo sering marahan sama Disa.
“Ya tapi...”
“Udahlah lupain aja. Kamu lupa ya? PR kita itu nggak sedikit.” Fera dan Melani mengerjakan PRnya masing-masing karena ingat PR mereka udah dari kemarin nggak dikerjain. Setelah beberapa jam kemudian, Fera tertidur.
“Fera kalo lagi tidur ternyata kayak kebo..” batin Melani cekikikan.
“Ra!” Fera bangun.
“Kok dibangunin sih!”
“Hoahm.. aku udah ngantuk nih. Kamu juga kan? Kita tidur yuk!” Fera pulang masih sambil merem.
Keesokan harinya, semua orang pada sahur dibangunin anak-anak kecil yang emang bertugas bangunin sahur. Setelah sahur, Melani nonton tivi. Ia terus memandangi jam dinding. Seharusnya Disa dan Fera udah jemput Melani untuk sholat subuh di masjid. Tapi kali ini nggak ada sekalipun ketukan pintu rumah Melani. Setelah sekian lama menunggu, Melani ketiduran.
SILAU. Itu kata pertama yang terucap dari bibir manis Melani. Melani terbangun dari tidurnya.
“Gawat. Udah jam setengah tujuh.” Melani segera mandi dan bergegas pergi ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, pikirannya nggak bisa terlepas dari bayangan Disa.
“Gimana ini? Aku masih keinget Disa. Pokoknya nanti aku harus minta maaf ke dia” keluh Melani.
Setelah pulang sekolah, Melani bertemu dengan Fera.
“Mel!” terian Fera mencoba memanggil-manggil Melani. Melani yang udah sadar dipanggilin lari ke arah Fera.
“Tuh kan Ra! Disa bener-bener marah. Buktinya, dia tadi nggak jemput aku sholat subuh.” Melani menceritakan keluhan-keluhannya pada Fera dengan napas yang tersendat-sendat.
“Dia ketiduran kali.” Setelah menggebu-gebu bercerita, hanya itu jawaban Fera.
“Nggak mungkin. Disa itu nggak pernah tidur kalo habis sahur.” Protes Melani.
“Kamu tadi juga nggak jemput aku. Padahal kan aku udah nungguin kamu” bales Fera.
“Ya sori kalo aku nggak jemput kamu. Lagian kan biasanya kamu yang jemput aku. Aku tuh nungguin kamu ama Disa! Emm, aku pulang dulu ya. Dari tadi aku pengen tidur.” Salam perpisahan Melani mengakhiri pembicaraan.
“Oh ya udah.” Melani pulang dan ketiduran di sofa sampai jam lima. Lalu terdengar adzan maghrib. Melani dibangunkan budhenya dan mengambil kolak pisang untuk berbuka dan juga nggak lupa mandi. Setelah mandi, ia sholat maghrib dan berbuka sambil nonton arti sahabat. Terdengar suara ketokan pintu.
“Assalamualaikum..” Teriak orang di luar. Kayaknya meraka seneng banget. Udah ketahuan dari caranya ngomong.
“Iya iya tunggu!” teriak Melani dari dalam. “Pasti mereka. Ini saatnya aku minta maaf ke Disa. Oh iya, tapi kan Disa bilang dia nggak mau sholat bareng dia.” Batin Melani dengan nada kecewa. Pintu dibuka. Tuh kan bener cuma ada Fera dan Nana aja.
“Disa mana? Dia nggak mau sholat ya?” tanya Melani bingung.
“Iya. Katanya sih dia masih marah sama kamu.” Jawab Nana sambil cengar-cengir. Melani tambah kecewa dan menyesal.
“Dor!” teriak seseorang dibelakang Melani dan juga mendorong Melani. Melani ikut teriak saking kagetnya. Melani menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang.
“Disa! Kok kamu ada Disini? Bukannya kamu marah ya sama aku?” tanya Melani penasaran.
“Oh, jadi ceritanya aku diusir nih?”
“Nggak gitu. Katamu kemarin kamu nggak mau sholat bareng aku.”
“Ya ampun Melaniku sayang, aku bercanda lagi. Waktu itu, aku cuma lagi emosi aja.”
“Makasih ya Dis. Kamu emang baik.” Senyumnya kembali mengembang.
“Oh, jadi kita nggak dianggep Ra. Okelah.” Kata Nana dan minta dukungan Fera. Padahal Fera nanggepinnya biasa aja. Nana emang raja gendut dan lebay.
“Makasih temen-temen. Aku nggak akan ninggalin kalian karena kalian semua sahabat aku yang pualing baik sedunia.” Mereka berpelukan ala teletubies.
Akhirnya Melani tau kalau arti persahabatan itu begitu indah. Lebih indah daripada film arti sahabat. Mereka menuju ke masjid buat sholat tarawih.
“Terima kasih ya Allah, telah kau berikan kepadaku karuniamu yang indah ini.”
RAMADHAN TIBAA
Dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan, MTsN Malang I mengadakan kegiatan pondok romadhon yang harus diikuti oleh semua siswa dan siswi MTsN Malang I dengan maksud untuk lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan keagamaan sehingga memperoleh pahala lebih dan juga mengajari siswa/siswi hal-hal yang harus dikerjakan dan dihindari di bulan Ramadhan yang dilakukan melalui media “ceramah ramadhan” pada waktu itu. Pondok romadhon tersebut dilakukan di kampus MTsN Malang I dan dilakukan selama 3 hari, yaitu pada tanggal 16-18 Agustus 2010.
Berikut adalah kegiatan pondok romadhon siswi MTsN Malang I (siswa dan siswi melakukan pondok romadhon dengan waktu yang berbeda).
Hari pertama, siswi berangkat ke sekolah pada pukul 14.30 dari rumah (sudah mandi dan memakai pakaian sopan). Lalu chek in peserta dan presensi (sudah terdapat nama-nama kelompok yang menggunakan tokoh Islam, misalnya al-Kindi, Imam Syafi’i, dan lain-lain. Sementara saya berada di kelompok 18-kelompok terakhir).seluruh siswa berkumpul di masjid dan berkumpul sesuai kelompok yang telah terbagi. Kegiatan selanjutnya adalah shalat Ashar berjamaah yang diimam bu Yuyus. Kemudian pembukaan yang masih dilakukan di dalam masjid al-Fajr (masjid MTsN Malang I) yang seharusnya dipimpin oleh kepala madrasah (bu Binti), tapi dipimpin oleh pak Tirjo karena bu Binti sedang ada keperluan lain sehingga tidak bisa datang dan ikut melaksanakan pondok romadhon. Dilanjutkan dengan materi BK/ pergaulan remaja oleh bu Fonny tentang “kecerdasan”. Isinya :
Kecerdasan dibagi menjadi 3, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan tersebut sangat berguna dan berpengaruh terhadap kehidupan duniawi manusia karena itu yang menentukan kesuksesan seseorang. Yang termasuk kecerdasan emosi adalah :
1. Mengenal diri sendiri,
2. Berempati,
3. Mengelola emosi,
4. Memotivasi diri (baik motivasi eksternal maupun internal), dan
5. Mampu untuk berhubungan dengan orang lain.
Itulah sekilas materi BK pada hari pertama. Kegiatan itu dilakukan sambil menantikan saat-saat berbuka tiba dan menunggu adzan maghrib. Setelah adan maghrib mulai terdengar, kami semua langsung menuju ke hall dan menikmati ta’jil bersama pada pukul 17.30. Ta’jilnya adalah es yang diberi degan (kelapa muda) dan kurma. Adzan maghrib dikumandangkan. Kami segera mengambil air wudhu lalu shalat maghrib berjamaah. Setelah itu kita kembali lagi ke hall untuk mengambil makanan buat berbuka. Kita berbuka dengan sup dan ayam. Setelah itu kita kembali lagi ke masjid untuk melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih berjamaah (20 rakaat). Dilanjutkan kultum guru oleh pak Andik Bambang tentang puasa selama 15 menit pada pukul 20.00. Isinya:
Puasa merupakan rukun Islam yang ke-3 dan Allah akan memberikan pahala tersendiri bagi orang yang berpuasa. Kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan. Inti dari ibadah puasa adalah kita bisa merasakan bagaimana orang yang kurang mampu dan jarang makan. Kita akan mendapatkan pahala yang berlimpah apabila kita memberi makanan (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang kurang mampu. Selain itu, kita juga akan terjadi hubungan darah dan rasa persaudaraan dengan orang yang kita beri makanan. Dan pada saat akhir puasa, kita semua diwajibkan untuk membayar zakat fitrah untuk perseorangan dan zakat maal bagi yang mampu.
lalu kita semua bertadarus al-Quran bersama UMMI dengan metode UMMI pula dari jam 20.15 sampai 21.15. Dikatakan metode UMMI karena berarti ibu yang sifatnya lembut dan kasih sayang. Jadi, siswa diharapkan dapat membaca al-Quran dengan lembut dan penuh kasih sayang. Pada hari pertama itu, siswi dibagi menjadi dua kelompok tadarus. Kelompok yang pertama mulai dari kelompok 1-9 dan kelompok kedua mulai dari kelompok 10-18. Kelompok pertama bertadarus di aula dan yang kedua tetap di masjid. Di kelompok kedua pada hari pertama sudah membaca QS. an-Nas sampai QS. Al-Qadr. Setelah tadarus selesai (21.15), kita disediakan minum teh dan kopi. Kita diizinkan untuk beristirahat atau tidur sampai jam 02.00 di kelas yang sudah ditentukan masing-masing kelompok. Sebenarnya kami harus memanfaatkan kesempatan tidur ini karena besoknya kita harus melakukan banyak sekali kegiatan. Tapi, setelah berusaha untuk tidur di kelas, kami nggak bisa tidur. Kami malah ngobrol dan makan jajan sambil berfoto-foto (katanya sih buat kenang-kenangan). Tapi setelah sekian lama setelah lampu dimatikan kami bisa tidur juga, tapi masih ada 4 anak yang nggak bisa tidur sampai jam 02.00 (di kelompok 18). Esok harinya, kita dibangunkan pukul 02.00 dengan kote’annya pak Fitri, gitarnya pak Sayyidi, dan yang manggil-manggil pak Pram. Lebih tepatnya mereka seperti pengamen, tapi dengan usaha itu kita bisa juga bangun. Kita segera ke masjid, dan mengambil air wudhu (masih memakai baju tidur) dan shalat taubat. Setelah itu kita shalat witir 11 rakaat diimani pak Hafidz buat menutup shalat tarawih yang kemarin. Sebenarnya di jadwal tertulis kita melakukannya di lapangan basket, tapi karena kondisi tanahnya basah karena hujan jadi shalatnya di masjid). Terus pukul 03.15 kita sahur di lapangan basket dan mengambil air wudhu lagi terus shalat subuh diimani pak Muji. Selanjutnya tafsir al-Quran dan juga kitab kuning oleh pak Lukman. Pada saat kegiatan ini kita ngantuk sekali karena kemarin nggak bisa tidur. Lalu kita istirahat kedua. Sekarang kita nggak bakalan menyia-nyiakan istirahat kedua ini dari jam 06.00 sampai 10.00. Tapi sebelum itu ada pengumuman kalau hari ini kita akan melaksanakan upacara kemerdekaan pukul 07.00 karena hari ini tanggal 17 Agustus. Tapi kita tetap ke kelas untuk tidur dan ada juga yang mandi sebelum upacara. Sekarang jam 07.00. Kita turun ke lapangan buat upacara. Kita harus sudah siap dengan pakaian yang paling bagus yang udah kita bawa dan memakai sepatu bagi yang membawa). Pembina upacaranya bu Binti (kepala madrasah) pada saat upacara kemerdekaan saat itu. Upacara berjalan dengan lancar dan disiplin, walaupun di tim paduan suara tidak ada microphone dan pianonya. Tidak satupun anak yang ramai dan ngomong sendiri. Setelah upacara dibubarkan, semua anak langsung menuju ke kelas masing-masing dan tidur. Selanjutnya pukul 10.00-10.10 kita bersih diri. Karena siswinya banyak dan hanya ada 4 ruang kamar mandi di lantai 3 yang bisa dipakai, jadi terpaksa kami harus antri lama sekali. Setelah mandi, kita tidur lagi. Seharusnya pada saat ini di jadwal tertulis kita nonton film di hall. Tapi karena waktu istirahat kedua kami sudah terkurangi, maka jam istirahat ditambah dan nonton film ditiadakan. Lalu kita kembali ke masjid untuk menunaikan shalat Dhuhur. Terus sesudah shalat Dhuhur, kegiatan kita adalah game pada pukul 12.30-14.00 yang dipandu oleh tim PPL. Setiap guru PPL membuat satu game yang bisa dimainkan oleh siswi. Jumlah game yang harus dimainkan ada 18 dan jumlah kelompok pondok romadhon 18 kelompok pula. Jadi, dalam waktu bersamaan masing-masing kelompok akan memainkan game yang berbeda. Setiap kelompok yang sudah memainkan satu game akan mendapatkan tanda tangan sebagai bukti sudah memainkan game yang baru dimainkan. Kelompok terbaik yaitu kelompok yang mendapat tanda tangan terbanyak. Setelah waktu habis, siswi bersih diri pukul 14.00-15.15. Lalu ke masjid untuk shalat Ashar berjamaah. Sesudah itu, ada kegiatan ceramah ramadhan oleh Ust. Sudirman, M.Ag. Tapi kita nunggu sampai Ust. Sudirman datang. Setelah sekitar 20 menit, akhirnya Ust. Sudirman datang menuju ke masjid dan segera memulai ceramahnya. Isinya :
• Kesenangan umat Islam ada dua, yaitu senang ketika berbuka dan senang ketika melihat Tuhannya.
• Ada lima hal yang membatalkan puasa, antara lain bohong, hibah, namimah (adu domba), memandang penuh dengan syahfat, dan sumpah palsu (sumpah yang tidak benar).
• Hal-hal yang mendapat tambahan pahala sunah, yaitu mengakhirkan sahur, mempercepat berbuka puasa, tarawih (Qiyamul Lail), membaca al-Quran, bersadaqah(tidak harus berupa uang), dll.
Ia membawakan ceramahnya kocak sekali. Siswi-siswi yang tadinya ngantuk menjadi terhibur dan tidak ngantuk lagi. Di akhir ceramah, ada tanya jawab dengan Ust. Sudirman. Salah satu yang ditanyakan salah seorang siswi misalnya, “Bolehkah kita puasa dengan niat untuk mengqada bulan puasa sekaligus puasa senin kamis?” dan jawabannya, “Boleh. Dengan syarat puasanya sunah dengan wajib atau sunah dengan sunah boleh. Tapi kalau sudah wajib dengan wajib, itu yang tidak boleh.” Akhirnya saat buka tiba. Kemudian siswi disuruh pergi ke hall untuk ta’jil bersama dengan es yang dicampur dengan jeli. Lalu shalat maghrib dan buka bersama. Setelah itu shalat Isya’ yang diimani oleh pak budi leksono. Terus shalat tarawih dengan jumlah 8 rakaat dan diimani pak lukman. Pada hari pertama jumlah tarawih 20 rakaat dan hari kedua 8 rakaat. Perbedaan rakaat itu supaya siswa mendapat pengalaman dan tahu kalau jumlah kedua jumlah rakaat itu benar. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ tentang bilangan rakaat shalat tarawih yang terdiri dari 2 pendapat :
• 8 rakaat, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah dari Abdurrohman. “Dari Abu Salamah bin Abdurrohman bahwasanya dia bertanya kepada Aisyah RA tentang bagaimana sholat Rasulullah di bulan Ramadhan? Beliau berkata: Tidaklah beliau shalat lebih dari sebelas rakaat pada bulan Ramadhan dan bulan selainnya (selain Ramadhan). (HR. Bukhori)
• 20 rakaat, mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khattab ketika beliau menjabat sebagai khalifah. (Kitab Assunanul Kabir karangan al-Imam al-Baihaqy bab: Pendapat Tentang Jumlah Rakaat Shalat Tarowih pada Bulan Ramadhan)

Selanjutnya kultum guru oleh pak Amin. Lalu tadarus al-Quran bersama UMMI dengan metode UMMI pula dari pukul 20.15 sampai 21.15. Kelompok kedua sudah membaca QS.al-Alaq sampai QS.an-Naba’. Lalu kita tidur di kelas dengan nyenyak karena kita semua sangat kelelahan hari ini. Tapi sebelum itu kita jajan, ada anak yang ikhlas memberi jajan dan terang bulan kepada kita. Seperti hari kedua kita dibangunkan pukul 02.00 untuk shalat taubat di masjid (seharunya di lapangan basket), dilanjutkan shalat witir 3 rakaat satu salam. Sesudah itu, muhasabah yang dipimpin bu Ana. Karena masih ngantuk, banyak yang nggak konsentrasi. Lalu makan sahur jam 03.00-03.15 yang dilakukan di hall. Kita makan dengan rawon ditambah krupuk. Selanjutnya shalat subuh diimami pak Muji lagi dan kultum subuh oleh pak Tirjo. Sebenarnya isinya bukan kultum. Kultum diisi dengan permainan yang membuat siswi untuk belajar berfikir sehingga lebih konsentrasi dan nggak ngantuk lagi. Kegiatannya yaitu :
Kita di beri kata “saya tidak dapat” dan kita diberi waktu untuk meneruskan kata selanjutnya apa yang pertama terlintas di fikiran kita. Kata kedua “saya tidak mau” dan perintahnya seperti kata pertama. Dari kedua kalimat yang sudah terbentuk diperoleh kesimpulan adanya perbedaan kedua kata tersebut, yaitu kata “saya tidak dapat” berarti tidak/ memiliki keinginan tapi tidak mampu melakukannya. Sedangkan kata “saya tidak mau” berarti tidak mau tapi tidak/ memiliki kemampuan.
Itulah sekilas kultum dari pak Tirjo saat itu. Selanjutnya yaitu Quiz Religi/ CCQ, tapi ditiadakan karena pak Faruq ingin menunjukkan dan menjelaskan powerpoint tentang “pacaran” yang harus diketahui siswi. Kesimpulannya, mancintai itu halal karena setiap orang pasti punya cinta. Tapi tidak hanya cinta kepada teman yang disukai saja, melainkan juga mencintai adik, kakak, ibu, bapak, guru, dan tentunya yang terbesar kepada Allah karena cinta sejati hanya kepada Allah. Selain itu, pacaran hukumnya haram. Setelah menyaksikan dan mendengarkan pak Faruq selanjutnya penutupan pada jam 7 oleh pak Tirjo yang seharusnya dipimpin bu Binti selaku kepala madrasah. Akhirnya kita pulang setelah 2 malam berada di MTs. Kegiatan banyak dilakukan di masjid karena hujan. Sebelum pulang kita harus merapikan kelas terlebih dahulu sehingga kelas dapat digunakan kembali untuk digunakan pembelajaran hari Kamis besok. Kami semua pulang dengan masih lelah dan ngantuk, tapi dengan perasaan yang senang. Bahkan tidak sedikit anak kelas 3 yang mengaku pondok romadhon tahun ini adalah yang terindah setelah malakukan 3 kali pondok romadhon. Saya juga sebagai umat Islam mengucapkan MARHABAN YA RAMADHAN. Sebaiknya kita banyak melakukan sunah-sunah Allah dengan tidak melupakan kewajiban dan hak kita sebagai umat Islam. Semoga amal kebaikan kita diridhoi Allah SWT. Amin ......

apa yang anda ketahui tentang saya ? mungkin nggak penting. tapi nggak papa dehh. anda bisa berknjung ke gubug saya kalo mau. atau paling nggak bisa tau tentang jalan di wagir...